Mengenal Maulana Jalaluddin Rumi
Ditulis oleh Dra. Hj. Luluatul Fuadiyah    Rabu, 02 Pebruari 2011 12:45    PDF Cetak Email
Indeks Artikel
Mengenal Maulana Jalaluddin Rumi
Sejarah Sosial
Pemikiran Rumi
Komentar
Penutup
Semua Halaman
PENDAHULUAN
 
UNESCO, sebuah badan PBB untuk pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan menetapkan tahun 2007 menetapkan sebagai "Tahun Rumi", bertepatan dengan peringatan 800 tahun kelahiran Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi dan penyair terkenal bukan hanya di dunia Islam.( http : //www. Eramuslim.com, Kamis, 01/03/2007).
Rupanya,UNESCO mengapresiasi Rumi begitu besarnya. Karena arah pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan ke depan sangat mendambakan sebuah peradapan yang beradab dan manusiawi. Peradaban yang tidak hanya mendorong tumbuhnya ilmu pengetahuan ansich hanya bertumpu pada nalar atau logika dan empirisme, tetapi lebih pada pada penguatan peradaban berbasis spiritualitas. Tanpa dilandasi nilai-nilai dan cita-cita ruhani yang mantap, kebudayaan suatu bangsa akan mudah rapuh, dan akibatnya suatu bangsa akan mudah diombang-ambing oleh bangsa lain yang lebih kuat.
 
Fritjof Capra (1991:20) mengemukkan bahwa spiritualitas merupakan tindakan sebagai hasil dari nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Spiritalitas membiarkan makna agama mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari, tulisan pemikiran, dan segala aktivitas apapun. Jadi dalam memangun peradaban nilai-nilai ruhani harus selalu mengaliri dalam setiap derap langkah dan karya serta piker suatu maysrakat bangsa kalau ingin bangsanya menjadi kuat dan bermartabat.
 
Pemikiran Jalaludin Rumi bersifat Iluminasionisme, yaitu sebagai suatu isme yang memandang bahwa hanya hati dan kalbu serta pensucian jiwa adalah satu-satunya sumber dan media bagi manusia untuk menggapai pengetahuan, makrifat, dan ilmu hakiki terhadap objek-objek dan realitas-realitas eksternal. (Ghulam Muhsin Ibrahimi;438).
 
Jalaluddin Rumi meletakkan akal dan pengetahuan lahiriah tersebut sebagai pendahuluan dan “jembatan” bagi pengetahuan yang lebih tinggi dan sempurna, akan tetapi bukan sebagai puncak dan kesempurnaan pengetahuan. Rumi tidak mengecam akal dan ilmu-ilmu lahiriah, bahkan memandang wajib untuk dituntut oleh semua orang. Namun, menurutnya, menuntut ilmu-ilmu tersebut dan penguasaan argumen-argumen rasional akan menjadi sangat urgen, penting, dan bermanfaat apabila mendukung pencapaian-pencapaian kesempurnaan manusia, pensucian jiwa, dan pencerahan hati, bukan untuk kebanggaan, kesombongan, kekuasaan, dan kekayaan duniawi, serta pemuasan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan syahwat. Penderitaan dan upaya keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan hanyalah diarahkan untuk tujuan yang suci dan transenden yakni menggapai kebahagiaan insani dan kesempurnaan Ilahi. Dengan demikian, pengetahuan lahiriah dan akal menempati posisinya tersendiri dan merupakan nikmat-nikmat Tuhan yang mesti dimanfaatkan untuk membantu manusia mencapai kebutuhan-kebutuhan spiritual dan tujuan hakiki penciptaannya, minimalnya sebagai tahapan awal bagi perjalanan kesempurnaan manusia dan pengenalan konsepsional terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan manifestasi-manifestasi-Nya.(Jalaluddin Hamayi:494).
 
Rumi merupakan tokoh sastra dan spiritual yang dikenang sepanjang masa melalui buah karyanya. Meski dunia telah mengalami perkembangan dan perubahan, era yang silih berganti, pemikiran rumi tetap aktual dan dan rindukan di segala jaman, karena tema-tema tulisannya banyak berhubungan dengan masalah-masalah universal, cinta, keadilan, kemanusiaan dan perdamaian
 
Rumi banyak menulis puisi-puisinya ketika masih tinggal di Persia. Buah pikir Rumi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di sekitar ia menetap, tatapi dibaca banyak orang se antero jagad sampai ke Iran, Afghanistan, Tajikistan dan diterjemahkan sampai ke negara Turki, Azerbaijan, AS dan Asia Tenggara.
 
Rumi pertama kali mengenal sufisme dari Shamsuddin dari Tabriz, seorang Muslim yang sengaja hidup miskin dan mengembara ke mana-mana. Ia sangat mencintai gurunya itu. Rasa kehilangan yang dalam saat Shamsuddin wafat, dituangkan Rumi dalam musik dan lirik-lirik puisinya yang bertajuk "Divani Shamsi Tabrizi."
 
Puisi-puisi Rumi menunjukkan rasa cintanya pada Allah dan tokoh ini telah memberi pengaruh besar pada sastra, pemikiran dan ekspresi keindahan di dunia Islam. Selama berabad-abad, karya-karya Jalaluddin Rumi memberikan pengaruh yang signifikan pada karya sastra berbahasa Persia, Urdu dan Turki, Maka tidaj heran bila bangsa-bangsa tersebut menjadi bangsa yang memiliki peradapan yang cukup membanggakan.
 
Rumi telah menanamkan kecintaan pada Allah, Nabi Muhammad saw, sikap toleransi dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Dunia yang dibangunnya menjadi jantung, dunia di mana matahari, bulan dan bintang beredar sesuai hukum, perintah, harmoni dan kedamaian. Disinilah letak kelebihan Rumi dibandingkan dengan pemikir-pemikir yang lain. Rumi dianggap sebagai monumen pemikiran dan seorang tokoh jenius yang luar biasa. ( http : //www. Eramuslim, Kamis, 01/03/2007). Figur Rumi oleh Unesco dijadikan model pengembangan peradaban dunia pada masa mendatang.



Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 02 Pebruari 2011 13:08 )