Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 29

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 32

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::load() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 161

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 138

Strict Standards: Non-static method JRequest::clean() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 33

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 463

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 464

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 465

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 466

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 467

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/environment/request.php on line 468

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 35

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 38

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 39

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::load() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 161

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 138

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 46

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 47

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 50

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 53

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 54

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 57

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php on line 58

Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php:29) in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/session/session.php on line 423

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php:29) in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/session/session.php on line 423

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/import.php:29) in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/session/session.php on line 426
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA/MA

Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/manbojon/public_html/main/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA/MA
Ditulis oleh Aning Wulandari    Kamis, 18 Maret 2010 09:58    PDF Cetak Email

PENDAHULUAN

Pengembangan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi persaingan global ditandai oleh semakin pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segenap aspek kehidupan manusia. Akibatnya, peningkatan kualitas bidang pendidikan, khususnya yang berorientasi pada penguasaan dan pemanfaatan IPTEK menjadi sangat penting.

Akan tetapi, kualitas pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan (http://mii.fmipa.ugm.ac.id). Hal ini dibuktikan dengan data dari UNESCO (2000) tentang peringat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Lebih lanjut dikatakan bahwa, data Balitbang (2003) menunjukkan bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Programs (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Programs (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Rendahnya prestasi belajar matematika merupakan salah satu permasalahan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Mutu pendidikan matematika dari tahun ke tahun sejak 1975 sampai sekarang terkesan tidak meningkat, apalagi kalau dibandingkan dengan perkembangan negara-negara lain (Marpaung, 2008). Dari beberapa kali Ujian Nasional, matematika disebut sebagai penyebab utama kegagalan siswa.

Pembelajaran matematika pada umumnya masih didominasi oleh paradigma pembelajaran terpusat pada guru, yang sering disebut sebagai pembelajaran langsung (direct teaching). Guru aktif mentransfer pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa menerima pelajaran dengan pasif. Matematika diajarkan sebagai bentuk yang sudah jadi, bukan sebagai proses. Akibatnya, ide-ide kreatif siswa tidak dapat berkembang, kurang melatih daya nalar dan tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah. Siswa hanya mampu mengingat dan menghafal rumus atau konsep matematika tanpa memahami maknanya.

Sementara itu, tidak sedikit siswa yang memandang matematika sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan, menyeramkan bahkan menakutkan, sehingga motivasi belajar matematika siswa rendah dan banyak siswa berusaha menghindari pelajaran matematika. Banyak siswa merasa kesulitan dalam memahami matematika karena matematika bersifat abstrak, sementara alam pikiran kita terbiasa berpikir tentang obyek-obyek yang konkret. Guru tidak terbiasa menggunakan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa dapat mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, metode pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbasis masalah, dan sebagainya. Guru terbiasa menggunakan model pembelajaran mekanistik dan strukturalistik, yaitu guru menerangkan, memberi rumus dan contoh, kemudian siswa diberi soal untuk dikerjakan. Akibatnya banyak siswa yang masih mengalami kesulitan belajar matematika.

PENDEKATAN KONTEKSTUAL

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka (Syaiful Sagala, 2008: 87). CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2008: 255) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa CTL adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan, menceritakan) kejadian pada dunia nyata kemudian diangkat ke dalam konsep matematika yang dibahas.

Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan itu, sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunaan penilaian autentik (Johnson, E. B., 2009: 67).

Menurut Nurhadi (2003) dalam Syaiful Sagala (2008: 88), Pendekatan Konstekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflecting), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari CTL, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya dibangun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, melalui suatu proses.  Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak  siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Menemukan adalah proses penting dalam pembelajaran agar retensinya kuat dan muncul kepuasan tersendiri bagi siswa dibandingkan dengan melalui diwariskan. Dalam pengertian menemukan sebagai inquiri, prinsip ini mempunyai seperangkat siklus, yaitu: observasi, bertanya, mengajukan, dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Dengan inquiri, siswa dalam kelas dapat belajar untuk berbicara dan bersikap secara matematika, sebagaimana yang ditulis Richard (1991) dalam Goos, Merrilyn (2004):

by inquiry mathematics, student learn to speak and act mathematically by participating in mathematical discussion and solving new or unfamiliar problem.

Bertanya merupakan jiwa dalam pembelajaran. Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berpikir. Dalam bentuk formalnya sebagai salah satu kegiatan dalam mengawali, menguatkan, dan menyimpulkan sebuah konsep. Bentuknya bisa dilakukan guru langsung kepada siswa atau justru memancing siswa untuk bertanya.kepada guru, kepada siswa lain atau kepada orang lain secara khusus. Dengan bertanya, siswa membuat keterkaitan antara materi yang dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan matematika. Seperti yang ditulis Pape, J. Stephen (2004),

the more successful students provided evidence that they translate and organized the given information by rewriting it on paper and they used the context to support their solutions.

 Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah, yaitu guru terhadap siswa dan sebaliknya, siswa dengan siswa. Berbagai penelitian memang telah banyak menguji keberhasilan bentuk sharing pengetahuan ini, khususnya pembelajaran teman sebaya.

Pemodelan menurut versi CTL, guru bukan satu-satunya model, melainkan harus memfasilitasi suatu model tentang “bagaimana cara belajar” baik dilakukan oleh siswa maupun oleh guru sendiri.

Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari dan dilakukan setiap peserta belajar. Guru mengkoreksi dirinya, siswa dikoreksi oleh gurunya. Nilai hakiki dari prinsip ini adalah semangat introspeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya.

Penilaian sebenarnya memandang bahwa kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya. Itulah hakekat penilaian autentik. Memang, selama ini format tes matematika cenderung menekankan pada pengujian produk bukan proses. Hal ini terjadi karena sistem dan aturan yang dikembangkan menuntut untuk melakukan tes hanya produk saja.

Pembelajaran dengan sistem CTL akan membuat siswa : (1) menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri dan aktif, (2) membangun keterkaitan antara sekolah dengan konteks kehidupan nyata, (3) melakukan pekerjaan yang berarti, (4) menggunakan pemikiran tingkat tinggi yang kreatif dan kritis, (5) bekerja sama, (6) mengembangkan sikap individu, (7) mengenali dan mencapai standar tinggi.

Pengertian belajar dalam konteks CTL meliputi beberapa hal (Wina Sanjaya, 2008 : 260):

a)      Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki.

b)      Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki, akan berpengaruh terhadap pola perilaku manusia.

c)      Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh, baik intelektual, mental maupun emosi.

d)     Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju ke kompleks.

e)      Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning).

PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering berhadapan dengan masalah, maka memecahkan masalah merupakan aktivitas sehari-hari bagi manusia. Oleh karenanya, salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran di sekolah adalah jika siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pemecahan masalah merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, siswa harus dilatih menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, siswa perlu memahami proses penyelesaian masalah dan trampil dalam memilih dan mengidentifikasi kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya (Herman Hudoyo, 1988: 113). Conney (1975) dalam Herman Hudoyo (1988: 113) menyatakan bahwa mengajarkan penyelesaian masalah kepada peserta didik memungkinkan peserta didik itu menjadi lebih analitik di dalam mengambil keputusan di dalam hidupnya. Untuk menyelesaikan masalah, seseorang harus menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya dan kemudian menggunakannya dalam situasi baru.

Kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari diperoleh melalui kemampuan menyelesaikan soal cerita. Penyelesaian soal cerita dimaksudkan agar siswa tidak hanya mampu mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong munculnya sikap positif siswa akan kebermaknaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

            Oleh karenanya, penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual pada pembelajaran matematika SMA/MA dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat (SPLK). Materi SPLK ini diberikan pada siswa kelas X (sepuluh) SMA/MA. Dalam pembelajaran SPLK, guru dapat menerapkan pendekatan kontekstual dengan cara mengawali pembelajaran dengan memberikan soal cerita yang berkaitan dengan SPLK. Dengan membuat keterkaitan antara materi SPLK dengan masalah kehidupan sehari-hari, maka siswa akan merasakan kebermanfaatan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, langkah-langkah dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat membantu siswa membangun sendiri pemahamannya, sehingga materi yang dipelajari tidak mudah hilang (tidak cepat lupa). Berikut ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika SMA/MA:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( R P P )

Mata Pelajaran      :           MATEMATIKA

Kelas / Semester   :           X / 1

Pertemuan Ke       :           1

Alokasi Waktu       :           2 x 45 Menit

Standar Kompetensi     :  Memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan pertidaksamaan satu variabel

Kompetensi Dasar        :  3.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dan sistem persamaan campuran linear dan kuadrat dalam dua variabel

Indikator                      :

·         Menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan :

1.     Metode grafik

2.     Metode substitusi

3.     Metode eleminasi

4.     Metode gabungan substitusi dan eleminasi.

I.      Tujuan Pembelajaran

  • Siswa dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dengan :

1.     Metode grafik

2.     Metode substitusi

3.     Metode eleminasi

       4.     Metode gabungan substitusi dan eleminasi

II.    Bahan / Materi Ajar

  • Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

III.   Metode Pembelajaran

  • Ceramah dengan pendekatan kontekstual

IV.   Langkah-langkah Pembelajaran :

 

a.     Kegiatan awal :

1.     Apersepsi : Guru mengingatkan kembali tentang materi persamaan linear dua variabel, persamaan kuadrat, dan persamaan garis lurus.

2.     Motivasi : Guru menjelaskan arti penting SPLDV dalam penyelesaian permasalahan kehidupan sehari-hari, misalnya dalam menentukan harga barang, menentukan ukuran panjang atau  lebar suatu bidang berbentuk persegi atau persegi panjang.

3.     Menjelaskan tujuan pembelajaran yaitu menentukan penyelesaian soal-soal cerita yang berkaitan dengan SPLDV.

b.    Kegiatan Inti :

4.     Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok terdiri dari 5-6 anak)

5.     Guru memberikan sebuah permasalahan matematika:

”Diketahui harga 2 buku tulis dan 3 bolpoin adalah Rp 5.200,00, sedangkan harga 4 buku tulis dan dua bolpoin adalah Rp 6.800,00. Tentukan harga sebuah buku tulis dan harga sebuah bolpoin!”

6.     Guru membimbing siswa membuat kalimat matematika dari soal cerita tersebut, yaitu:

Misal : buku tulis = x dan bolpoin = y, maka diperoleh dua persamaan sebagai berikut:

2x+3y=5.2004x+2y=6.800 

Kedua persamaan tersebut disebut sistem persamaan linear dengan dua variable (SPLDV)

7.     Guru menjelaskan kepada siswa bahwa untuk menyelesaikan SPLDV tersebut di atas dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: dengan metode substitusi, eleminasi dan gabungan substitusi eleminasi. Selanjutnya guru menerangkan cara penggunaan masing-masing metode.

8.     Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

9.     Guru memberikan permasalahan yang kedua:

”Sepuluh tahun yang lalu, umur soerang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya. Jika jumlah 2 kali umur ayah dan 3 kali umur anaknya sekarang 160 tahun, tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang!”

10.  Siswa menyelesaikan permasalahan tersebut secara berdiskusi dengan kelompoknya. Guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan. Guru membiarkan siswa membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri berdasarkan konsep materi yang telah diterimanya.

11.  Setelah selesai berdiskusi, guru memberi kesempatan kepada salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

c.     Kegiatan akhir

12.  Membuat kesimpulan dan memberi pekerjaan rumah (PR) secara individu (soal PR terlampir)

V.    Alat / Bahan / Sumber belajar :

Alat                     :  -

Bahan                  :  -

Sumber Belajar     :  Buku Paket dan LKS yang dipakai siswa di sekolah

VI.   Penilaian :

Penilaian afektif  pada saat diskusi kerja kelompok maupun presentasi.

                                                                             ....................................................

Mengetahui,

Kepala ................................                                              Guru Mata Pelajaran

 

_____________________                                                    __________________

Lampiran :

1.     Diketahui keliling suatu persegi panjang adalah 50 cm. Jika 5 kali panjangnya dikurangi 3 kali lebarnya sama dengan 45 cm, tentukan panjang dan lebarnya!

2.     Suatu hari, Dani dan Budi membeli buku tulis dan pensil bersama-sama. Dani membeli 15 buku tulis dan 3 pensil, sedangkan Budi membeli 10 buku tulis dan 1 pensil. Jika dani dan Budi masing-masing harus membayar Rp 31.500,00 dan Rp 20.500,00, tentukan harga satu buku tulis dan satu pensil!

3.     Lima tahun yang lalu umur seorang ayah sama dengan 4 kali umur anaknya. Jika selisih umur ayah dan anaknya sekarang sama dengan 45 tahun, tentukan umur ayah dan umur anaknya sekarang!

PENUTUP

Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak dan penalarannya deduktif. Kemampuan mengabstraksi dan mendeduksi hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah dalam tahap operasional formal. Oleh karena itu, dalam mengajarkan matematika diperlukan kreatifitas guru. Kreatifitas peserta didik akan terbentuk bila cara penyampaian topik kepada peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kesiapan intelektual peserta didik.

Ada banyak strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika. Strategi pemecahan masalah dipergunakan dalam proses pembelajaran untuk melatih peserta didik menghadapi permasalahan yang menuntut kreatifitas. Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran matematika di SMA/MA dengan pendekatan kontekstual dapat diterapkan pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat. Dengan pendekatan kontekstual, pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna, sehingga materi dapat diserap siswa dan siswa tidak mudah lupa.

 

Pemutakhiran Terakhir ( Jumat, 19 Maret 2010 07:48 )
 

Comments 

 
0 #8 2011-11-30 08:41
bu guru sy mohon bantuannya u/ soal PLDV seperti ini:
Enam tahun yg lalu umur Andi dibanding umur Budi adalah 5:3. Jika empat tahun yg akan datang perbandingan umur mereka 10:7
Tentukan umur Andi dan Budi sekarang!

sy tunggu balasannya bu..trm ksh!
Quote
 
 
0 #7 2010-12-01 20:26
Indahnya memulai pembelajaran matematika >>>http://adristance.blogspot.com/2010/11/indahnya-memulai-pembelajaran.html
Quote
 
 
0 #6 2010-12-01 20:25
Indahnya Memulai Pembelajaran Matematika
Quote
 
 
0 #5 2010-07-14 21:48
pokoknya bu aning is the best buat saya pribadi, dalam segi pembelajaran,se gi pengalaman, dan banyak yang tidak dapat saya sampaikan semua BU ANING Beri prinsip apa yang harus dilakukan y setidaky nisa meniru ibu dalam pembelajaran dan yang lainnya
Quote
 
 
0 #4 2010-06-28 18:40
pak agung terlalu memuji deh... makasih semoga bermanfaat
Quote
 
 
0 #3 2010-05-18 12:28
suiip betul betul guru teladan bu aning
Quote
 
 
0 #2 2010-05-15 08:12
yups betul sepakat dg pak luthfi....mg desain canggih otak kita tdk hy menempatkan diri kita sebagai pemikir tetapi sekaligus ahlu dzikir......
Quote
 
 
0 #1 2010-04-18 10:36
Pada dasarnya saya setuju belajar matematika dengan tidak menghapal rumus tetapi lebih mengutamakan Logic.Ayat Alqur'an telah banyak membuka tabir tentang matematika namun sebaliknya justru non muslim bahkan orang atheis yang banyak mengembangkanny a alhasil technology menjadi milik mereka dan kita banyak jadi penonton.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh